Sabtu, 24 Januari 2026

Tugas Terstuktur 12 : Infografis Konsumen Berkelanjutan

 

PANDUAN LENGKAP PENGERJAAN INFOGRAFIS KONSUMEN BERKELANJUTAN

📌 TAHAP 1: PERENCANAAN DAN RISET

A. Pilih Target Audiens

Saya merekomendasikan memilih MAHASISWA karena:

  • Lebih mudah memahami kebutuhan dan tantangan mereka
  • Solusi lebih sederhana dan low-budget
  • Relevan dengan kehidupan kampus sehari-hari

B. 3 Langkah Nyata untuk Mahasiswa

LANGKAH 1: BAWA PERLENGKAPAN MAKAN MINUM SENDIRI 🥤

Pesan Kunci: "Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai"

Penjelasan Singkat:

  • Bawa botol minum isi ulang, tumbler kopi, dan kotak makan
  • Hindari sedotan plastik dan kemasan sekali pakai
  • Dampak: 1 mahasiswa bisa mengurangi hingga 500 botol plastik per tahun

Sumber: Ellen MacArthur Foundation (2019) - Plastik sekali pakai berkontribusi 40% dari total sampah plastik

LANGKAH 2: BIJAK DALAM MEMBELI PAKAIAN 👕

Pesan Kunci: "Stop Fast Fashion, Mulai Smart Fashion"

Penjelasan Singkat:

  • Beli pakaian berkualitas yang tahan lama
  • Eksplorasi thrift shop/barang second berkualitas
  • Ikut program tukar atau donasi pakaian
  • Dampak: Industri fashion menghasilkan 10% emisi karbon global

Sumber: UNEP (2023) - Fashion industry environmental impact report

LANGKAH 3: PILIH TRANSPORTASI RAMAH LINGKUNGAN 🚲

Pesan Kunci: "Bergerak Hijau, Hemat Kantong"

Penjelasan Singkat:

  • Prioritaskan jalan kaki atau sepeda untuk jarak dekat
  • Gunakan transportasi umum atau carpooling
  • Manfaatkan aplikasi ride-sharing bersama teman
  • Dampak: Bersepeda 10 km/hari bisa hemat Rp 300.000/bulan dan kurangi 700 kg CO2/tahun

Sumber: Kementerian Perhubungan RI & European Cyclists' Federation

C. Judul yang Menarik

Opsi Judul:

  1. ✅ "3 Langkah Nyata untuk Menjadi Konsumen Berkelanjutan" (Judul Wajib)
  2. Bisa ditambah subjudul: "Aksi Sederhana Mahasiswa untuk Bumi"

🎨 TAHAP 2: DESAIN INFOGRAFIS

A. Rekomendasi Tools

Pilihan Terbaik: CANVA (gratis & mudah)

  • Buka canva.com
  • Pilih "Infographic" template
  • Ukuran yang disarankan: 800 x 2000 px (portrait)

B. Struktur Desain yang Efektif

╔═══════════════════════════════════════╗
║                                       ║
║   🌍 3 LANGKAH NYATA UNTUK           ║
║   MENJADI KONSUMEN BERKELANJUTAN      ║
║   Aksi Sederhana Mahasiswa            ║
║                                       ║
╠═══════════════════════════════════════╣
║                                       ║
║   1️⃣  [IKON BOTOL] 🥤                ║
║   BAWA PERLENGKAPAN SENDIRI           ║
║   ________________________________    ║
║   • Botol minum isi ulang             ║
║   • Kotak makan & sedotan reusable    ║
║   💡 Kurangi 500 botol plastik/tahun  ║
║                                       ║
╠═══════════════════════════════════════╣
║                                       ║
║   2️⃣  [IKON BAJU] 👕                 ║
║   BIJAK MEMBELI PAKAIAN               ║
║   ________________________________    ║
║   • Pilih kualitas > kuantitas        ║
║   • Thrift shop & tukar pakaian       ║
║   💡 Fashion = 10% emisi global       ║
║                                       ║
╠═══════════════════════════════════════╣
║                                       ║
║   3️⃣  [IKON SEPEDA] 🚲               ║
║   TRANSPORTASI RAMAH LINGKUNGAN       ║
║   ________________________________    ║
║   • Jalan kaki/sepeda jarak dekat     ║
║   • Transportasi umum & carpooling    ║
║   💡 Hemat Rp 300rb/bulan             ║
║                                       ║
╠═══════════════════════════════════════╣
║                                       ║
║   📚 Sumber:                          ║
║   Ellen MacArthur Foundation, UNEP,   ║
║   Kemenhub RI                         ║
║                                       ║
║   Dibuat oleh:                        ║
║   [NAMA ANDA] - NIM: [NIM ANDA]      ║
║                                       ║
╚═══════════════════════════════════════╝

C. Panduan Warna

Palet Warna Berkelanjutan:

  • Primer: Hijau tua (#2D5016) - representasi alam
  • Sekunder: Hijau muda (#7CB342) - segar, positif
  • Aksen: Krem/Beige (#F5F5DC) - netral, hangat
  • Teks: Hitam (#333333) atau Abu tua

Tools: Gunakan coolors.co untuk harmoni warna

D. Tips Desain Visual

Ikon/Ilustrasi:

  • Gunakan ikon flat design (modern & minimalis)
  • Di Canva: Cari "eco icons", "sustainable icons"
  • Konsisten dalam style (semua outline atau semua filled)

Font:

  • Judul: Poppins Bold/Montserrat Bold (36-48pt)
  • Sub-judul: Poppins SemiBold (24-28pt)
  • Isi: Open Sans/Roboto Regular (16-18pt)

Hierarki Visual:

  • Angka langkah dibuat besar dan mencolok
  • Gunakan bullet points untuk sub-poin
  • Beri ruang kosong (white space) cukup

📤 TAHAP 3: PENYERAHAN

Checklist Sebelum Submit:

Konten:

  • ✅ Judul sesuai: "3 Langkah Nyata untuk Menjadi Konsumen Berkelanjutan"
  • ✅ 3 langkah dengan penjelasan lengkap
  • ✅ Ikon/visual untuk tiap langkah
  • ✅ Data pendukung (statistik/fakta)
  • ✅ Sumber referensi tercantum
  • ✅ Nama lengkap dan NIM

Teknis:

  • ✅ Format: .PNG (kualitas terbaik) atau .JPG
  • ✅ Resolusi minimal 1080px lebar
  • ✅ File size: 1-5 MB (jangan terlalu besar)
  • ✅ Test buka di perangkat lain (pastikan tidak blur)

Export dari Canva:

  1. Klik "Share" → "Download"
  2. Pilih "PNG" (recommended) atau "PDF"
  3. Centang "High quality"
  4. Download

🎯 STRATEGI DAPAT NILAI MAKSIMAL

40% - Akurasi & Relevansi Konten

Lakukan:

  • Riset sumber kredibel (UN, NGO internasional, jurnal)
  • Pastikan data up-to-date (2020-2025)
  • Berikan contoh aplikatif untuk mahasiswa Indonesia
  • Sertakan dampak nyata (angka/statistik)

Hindari:

  • Informasi umum tanpa data
  • Langkah yang tidak realistis untuk mahasiswa
  • Sumber dari blog pribadi/tidak kredibel

30% - Kreativitas Desain Visual

Lakukan:

  • Gunakan ilustrasi custom atau ikon unik
  • Kombinasi warna yang eye-catching tapi profesional
  • Tambahkan elemen visual pendukung (grafik kecil, pattern)
  • Layout asimetris tapi seimbang

Hindari:

  • Template default tanpa modifikasi
  • Terlalu banyak warna (maksimal 4 warna)
  • Clipart generik/murahan

20% - Kejelasan Komunikasi

Lakukan:

  • Bahasa sederhana, langsung ke poin
  • Gunakan call-to-action yang jelas
  • Alur membaca intuitif (top to bottom)
  • Highlight kata kunci dengan warna/bold

Hindari:

  • Kalimat bertele-tele
  • Terlalu banyak teks (maksimal 50-60 kata per langkah)
  • Font terlalu kecil

10% - Kepatuhan Format

Pastikan:

  • Semua elemen wajib ada
  • Format file benar
  • Resolusi cukup tinggi
  • File bisa dibuka dengan baik

📚 SUMBER REFERENSI KREDIBEL

Wajib Dikutip:

  1. Ellen MacArthur Foundation (2019) - "The New Plastics Economy"
  2. UNEP (2023) - "Sustainability and Circularity in the Textile Value Chain"
  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI - Program pengurangan sampah plastik
  4. European Cyclists' Federation - Environmental benefits of cycling

Link Berguna:

  • sdgs.un.org (SDG 12: Responsible Consumption)
  • ellenmacarthurfoundation.org
  • unep.org

⚡ QUICK START GUIDE (30 MENIT)

Menit 1-5: Buka Canva → Pilih template "Infographic" → Pilih yang vertical/portrait

Menit 6-15:

  • Ganti judul
  • Masukkan 3 langkah dengan ikon
  • Tambahkan penjelasan singkat

Menit 16-25:

  • Sesuaikan warna (gunakan palet hijau-krem)
  • Ganti font yang konsisten
  • Tambahkan sumber dan identitas

Menit 26-30:

  • Review keseluruhan
  • Export PNG high quality
  • Test buka file

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tugas Mandiri 15 : Mind Map Karier Insinyur Beretika (Ethical Career Roadmap)

Mind Map Karier Insinyur Beretika (Ethical Career Roadmap)

 

 

 

 

 

💭 Refleksi: Pentingnya Integritas Etika bagi Masa Depan Industri Indonesia

Integritas etika menjadi fondasi krusial bagi industri Indonesia di era transisi energi. Tanpa kejujuran dalam pelaporan dampak lingkungan dan komitmen terhadap keberlanjutan, kita hanya akan mengulang kesalahan masa lalu dimana pertumbuhan ekonomi mengorbankan kelestarian alam. Sebagai calon profesional di industri baterai EV, saya yakin bahwa penerapan prinsip-prinsip ekologi industri seperti LCA, DfE, dan simbiosis industri bukan sekadar kepatuhan regulasi, tetapi investasi jangka panjang untuk daya saing global. Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen baterai berkelanjutan, namun hanya akan terwujud jika kita mengintegrasikan nilai-nilai etis dalam setiap keputusan bisnis. Dengan transparansi, tanggung jawab antargenerasi, dan kehati-hatian terhadap dampak ekologis, kita dapat membangun industri yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memastikan masa depan yang layak bagi generasi mendatang.

 

Tugas Terstruktur 14 : Pemetaan Jaringan Simbiosis Industri (Eco-Industrial Network Map)

 

Laporan Perancangan Kawasan Industri Ekologis (Eco-Industrial Park)

BAGIAN I: DESKRIPSI AKTOR INDUSTRI

1. PT Energi Hijau Nusantara – Pembangkit Listrik Biomassa

  • Input Utama: Biomassa (sekam padi, serbuk kayu), air untuk pendinginan, udara pembakaran
  • Output Produk: Listrik (50 MW)
  • Output Limbah: Uap panas bekas (waste steam 150°C), abu boiler (fly ash & bottom ash), air pendingin hangat (35-40°C), emisi gas buang terfilter

2. PT Kertas Lestari – Pabrik Kertas Daur Ulang

  • Input Utama: Kertas bekas, air proses, energi termal untuk pengeringan, bahan kimia (NaOH, H₂O₂)
  • Output Produk: Kertas kardus dan kemasan
  • Output Limbah: Sludge selulosa (lumpur pulp), air limbah dengan kandungan organik tinggi, limbah plastik dan kontaminan non-pulp

3. PT Agro Subur Mandiri – Pabrik Pupuk Organik

  • Input Utama: Bahan organik, starter mikroba, air
  • Output Produk: Pupuk kompos, pupuk organik granular
  • Output Limbah: Air lindi (leachate) dari proses pengomposan, gas metana dan CO₂ dari dekomposisi, residu screening

4. PT Pangan Sejahtera – Pengolahan Makanan (Pabrik Mie Instan)

  • Input Utama: Tepung terigu, minyak goreng, bumbu, air bersih, energi panas untuk penggorengan dan pengeringan
  • Output Produk: Mie instan
  • Output Limbah: Air limbah berminyak, uap panas dari proses penggorengan, limbah kemasan plastik, minyak jelantah

5. Unit Pengolahan Air Terpadu (IPAL Kawasan)

  • Input Utama: Air limbah dari semua industri di kawasan
  • Output Produk: Air olahan (reclaimed water), biogas dari proses anaerobik
  • Output Limbah: Lumpur aktif (biosolid), air reject (brine) dari reverse osmosis

BAGIAN II: ECO-INDUSTRIAL NETWORK MAP

Berikut adalah visualisasi jaringan simbiosis industri dalam kawasan ini:

 

 

BAGIAN III: TABEL SINERGI

Dari (Pemasok Limbah)Menuju (Penerima)Jenis Sumber DayaManfaat bagi Penerima
Pembangkit ListrikPabrik KertasUap Panas (Steam 150°C)Mengurangi 60% konsumsi boiler mandiri untuk proses pengeringan pulp
Pembangkit ListrikPabrik Mie InstanUap Panas (Steam)Menghemat energi untuk proses steaming dan pengeringan mie sebesar 45%
Pembangkit ListrikPabrik KertasAir Pendingin Hangat (35-40°C)Digunakan untuk pre-heating water sebelum masuk boiler, menghemat energi 15%
Pembangkit ListrikPabrik PupukAbu Boiler (Fly Ash)Sumber mineral (K, P, Ca) untuk memperkaya kandungan pupuk organik
Pabrik KertasPabrik PupukSludge SelulosaBahan baku organik kaya karbon untuk proses pengomposan
Pabrik KertasIPAL KawasanAir Limbah ProsesDiolah menjadi air bersih untuk digunakan kembali
Pabrik Mie InstanPabrik PupukLimbah Organik (sisa adonan, remah mie reject)Bahan organik untuk kompos, mengurangi biaya bahan baku
Pabrik Mie InstanIPAL KawasanAir Limbah BerminyakPengolahan anaerobik menghasilkan biogas untuk energi
Pabrik PupukIPAL KawasanAir Lindi (Leachate)Diolah untuk mengurangi beban organik sebelum discharge
IPAL KawasanPabrik KertasAir Olahan (Reclaimed Water)Menggantikan 70% kebutuhan air bersih untuk proses pencucian dan pendinginan
IPAL KawasanPabrik Mie InstanAir OlahanDigunakan untuk sistem pendinginan dan pembersihan, menghemat air bersih 50%

BAGIAN IV: ANALISIS DAMPAK

A. Pengurangan Beban Lingkungan (Analisis Kualitatif-Kuantitatif)

1. Pengurangan Limbah Padat

  • Abu boiler dari pembangkit (±20 ton/bulan) yang sebelumnya dibuang ke TPA kini dimanfaatkan sebagai mineral enrichment dalam pupuk organik
  • Sludge selulosa dari pabrik kertas (±50 ton/bulan) dialihkan ke pabrik pupuk, mengurangi 100% pembuangan ke landfill
  • Total pengurangan limbah ke TPA: ~70 ton/bulan atau 840 ton/tahun (pengurangan 85%)

2. Efisiensi Penggunaan Air

  • Pabrik Kertas: Penggunaan air olahan dari IPAL mengurangi konsumsi air bersih dari 15.000 m³/bulan menjadi 4.500 m³/bulan (pengurangan 70%)
  • Pabrik Mie Instan: Pengurangan konsumsi air bersih sebesar 50% atau ~5.000 m³/bulan
  • Total penghematan air kawasan: ~15.500 m³/bulan atau 186.000 m³/tahun

3. Efisiensi Energi

  • Pabrik Kertas menghemat 60% energi thermal dari boiler mandiri dengan memanfaatkan waste steam pembangkit (setara ~1.200 GJ/bulan)
  • Pabrik Mie Instan menghemat 45% kebutuhan steam (setara ~800 GJ/bulan)
  • Pre-heating water menggunakan air pendingin hangat menghemat tambahan 15% energi (setara ~300 GJ/bulan)
  • Total penghematan energi: ~2.300 GJ/bulan, setara pengurangan emisi CO₂ sebesar ~180 ton/bulan

4. Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca

  • Dari efisiensi energi: ~180 ton CO₂/bulan
  • Dari pemanfaatan biogas IPAL menggantikan bahan bakar fosil: ~40 ton CO₂/bulan
  • Total pengurangan emisi: ~220 ton CO₂/bulan atau 2.640 ton CO₂/tahun

5. Nilai Ekonomi Sirkular

  • Penghematan biaya pembuangan limbah: ~Rp 250 juta/tahun
  • Penghematan biaya energi: ~Rp 1,8 miliar/tahun
  • Penghematan biaya air: ~Rp 350 juta/tahun
  • Pendapatan tambahan dari produk sampingan (pupuk dari abu dan sludge): ~Rp 400 juta/tahun
  • Total manfaat ekonomi kawasan: ~Rp 2,8 miliar/tahun

B. Tantangan Teknis dalam Implementasi

1. Degradasi Kualitas Uap Panas pada Transmisi Jarak Jauh

Deskripsi Masalah: Uap panas dari pembangkit listrik ke pabrik kertas dan pabrik mie instan mengalami penurunan suhu akibat heat loss selama transmisi melalui pipa. Jika jarak antar fasilitas >500 meter, uap 150°C dapat turun hingga 120-130°C, mengurangi efektivitas untuk proses yang membutuhkan suhu tinggi.

Solusi Mitigasi:

  • Instalasi pipa steam dengan insulasi termal berlapis (mineral wool + aluminium cladding) untuk meminimalkan heat loss hingga <5°C per 100 meter
  • Penempatan strategis industri penerima steam dalam radius maksimal 300 meter dari pembangkit
  • Penggunaan steam trap dan kondensate recovery system untuk memaksimalkan efisiensi
  • Monitoring real-time temperature sepanjang jalur distribusi menggunakan sensor IoT

2. Variabilitas Kualitas Limbah sebagai Input

Deskripsi Masalah: Komposisi sludge selulosa dari pabrik kertas dan limbah organik dari pabrik mie instan dapat bervariasi tergantung jenis produk yang diproduksi. Variasi kandungan moisture content, kontaminan kimia, atau material non-organik dapat mengganggu proses pengomposan di pabrik pupuk.

Solusi Mitigasi:

  • Penetapan standar kualitas minimum untuk setiap jenis limbah yang dipertukarkan (misalnya: sludge harus memiliki moisture content <65%, kontaminan plastik <2%)
  • Instalasi pre-treatment facility di pabrik sumber untuk screening dan stabilisasi limbah sebelum transfer
  • Sistem kontrak bilateral yang mencakup quality assurance dan penalty mechanism
  • Buffer storage di pabrik pupuk untuk mencampur batch dengan kualitas berbeda demi homogenisasi

REFERENSI

  1. Chertow, M. R. (2007). "Uncovering" Industrial Symbiosis. Journal of Industrial Ecology, 11(1), 11-30. https://doi.org/10.1162/jiec.2007.1110
  2. Jacobsen, N. B. (2006). Industrial Symbiosis in Kalundborg, Denmark: A Quantitative Assessment of Economic and Environmental Aspects. Journal of Industrial Ecology, 10(1-2), 239-255. https://doi.org/10.1162/108819806775545411
  3. Simboli, A., Taddeo, R., & Morgante, A. (2014). Value and Wastes in Manufacturing: An Overview and a New Perspective Based on Eco-Efficiency. Administrative Sciences, 4(3), 173-191. https://doi.org/10.3390/admsci4030173
  4. Geng, Y., Zhang, P., Côté, R. P., & Fujita, T. (2009). Assessment of the National Eco-Industrial Park Standard for Promoting Industrial Symbiosis in China. Journal of Industrial Ecology, 13(1), 15-26.
  5. Notarnicola, B., Settanni, E., Tassielli, G., & Giungato, P. (2016). Industrial Symbiosis in the Taranto Industrial District: Current Level, Constraints and Potential New Synergies. Journal of Cleaner Production, 122, 133-143.

 

 

 

Minggu, 04 Januari 2026

Tugas Terstruktur 13 : Analisis Aliran Energi dan Jejak Karbon pada Proses Produksi Mikro/Kecil

 

 

Nama Unit Usaha: Pabrik Tahu "Sumber Rezeki"
Lokasi: Jl. Raya Industri No. 45, Rangkasbitung
Jenis Produk: Tahu putih ukuran standar
Kapasitas Produksi: 500 potong/hari atau 15.000 potong/bulan
Jam Operasional: 05.00 - 15.00 WIB (10 jam/hari, 26 hari/bulan) 

 

 

 

 

B. IDENTIFIKASI SUMBER DAN INTENSITAS ENERGI

Tabel Inventarisasi Energi:

NoPeralatanJenis EnergiDaya/KonsumsiDurasi/BulanDirect/Indirect
1Motor PenggilingListrik PLN1,5 kW130 jamDirect
2Kompor Gas (2 unit)LPG15 tabung 3kg-Direct
3Pompa AirListrik PLN0,5 kW50 jamIndirect
4PeneranganListrik PLN50W total260 jamIndirect
5Kulkas DisplayListrik PLN0,15 kW780 jamIndirect

Klasifikasi:

Direct Energy (Energi Langsung):

  • Motor penggiling: digunakan langsung dalam proses transformasi bahan baku
  • Kompor gas: untuk perebusan yang mengubah karakteristik produk

Indirect Energy (Energi Tidak Langsung):

  • Pompa air: mendukung proses tetapi tidak mengubah produk langsung
  • Penerangan: untuk kenyamanan dan keamanan kerja
  • Pendinginan: untuk penyimpanan setelah produksi

Total Konsumsi Energi per Bulan:

  • Listrik: (1,5 × 130) + (0,5 × 50) + (0,05 × 260) + (0,15 × 780) = 195 + 25 + 13 + 117 = 350 kWh
  • LPG: 15 tabung × 3 kg = 45 kg LPG

C. PERHITUNGAN DASAR (ANALISIS KUANTITATIF)

1. Konversi ke Satuan Standar (MJ)

Faktor Konversi:

  • 1 kWh = 3,6 MJ
  • 1 kg LPG = 46,1 MJ

Perhitungan:

Listrik: 350 kWh × 3,6 MJ/kWh = 1.260 MJ

LPG: 45 kg × 46,1 MJ/kg = 2.074,5 MJ

Total Energi: 1.260 + 2.074,5 = 3.334,5 MJ/bulan


2. Intensitas Energi

Intensitas Energi = Total Energi ÷ Jumlah Produk

Perhitungan: 3.334,5 MJ ÷ 15.000 potong = 0,222 MJ/potong tahu

Atau dalam kWh: 350 kWh ÷ 15.000 = 0,023 kWh/potong

Interpretasi: Setiap potong tahu memerlukan energi setara 0,222 MJ atau 23 Wh listrik.


3. Estimasi Jejak Karbon (Carbon Footprint)

Faktor Emisi:

  • Listrik PLN Indonesia: 0,85 kg CO₂/kWh
  • LPG: 2,9 kg CO₂/kg

Perhitungan Emisi:

Dari Listrik: 350 kWh × 0,85 kg CO₂/kWh = 297,5 kg CO₂

Dari LPG: 45 kg × 2,9 kg CO₂/kg = 130,5 kg CO₂

Total Emisi CO₂: 297,5 + 130,5 = 428 kg CO₂/bulan atau 5,14 ton CO₂/tahun

Jejak Karbon per Produk: 428 kg ÷ 15.000 potong = 0,029 kg CO₂/potong (29 gram CO₂/potong)


D. ANALISIS EFISIENSI DAN REKOMENDASI

Identifikasi Energy Loss (Kehilangan Energi):

  1. Panas Terbuang dari Kompor (40-50% kehilangan)
    • Tidak ada isolasi pada tungku perebusan
    • Api kompor terlalu besar, melebihi diameter panci
    • Estimasi loss: ~1.000 MJ/bulan
  2. Idling Motor Penggiling (10% waktu tidak produktif)
    • Motor tetap menyala saat menunggu bahan atau istirahat
    • Estimasi pemborosan: 13 kWh/bulan = 46,8 MJ
  3. Lampu Menyala di Siang Hari
    • Area produksi terang alami tapi lampu tetap menyala
    • Estimasi pemborosan: 5 kWh/bulan = 18 MJ
  4. Kebocoran Panas dari Panci Tanpa Tutup
    • Proses perebusan tidak menggunakan tutup optimal
    • Perpanjangan waktu perebusan ~15%

Total Energy Loss: ~1.064 MJ/bulan (~32% dari total energi)


REKOMENDASI PENINGKATAN EFISIENSI:

Rekomendasi 1: Optimalisasi Sistem Pembakaran

  • Tindakan:
    • Buat windshield/pembatas angin di sekitar kompor
    • Gunakan panci dengan diameter sesuai api kompor
    • Pasang reflektor panas di bawah panci
  • Estimasi Penghematan: 20-30% energi LPG = 9-13,5 kg LPG/bulan
  • Penghematan Biaya: Rp 180.000 - 270.000/bulan (asumsi Rp 20.000/kg)
  • Penghematan Emisi: 26-39 kg CO₂/bulan
  • Investasi: Rp 500.000 (payback period: 2-3 bulan)

Rekomendasi 2: Manajemen Operasional Motor

  • Tindakan:
    • Matikan motor saat istirahat >10 menit
    • Susun jadwal grinding batch yang efisien
    • Gunakan timer otomatis
  • Estimasi Penghematan: 10-15% energi listrik motor = 19,5-29,25 kWh/bulan
  • Penghematan Biaya: Rp 27.000 - 40.000/bulan (asumsi Rp 1.400/kWh)
  • Penghematan Emisi: 16,6-24,9 kg CO₂/bulan
  • Investasi: Rp 0 (hanya prosedur operasional)

Rekomendasi 3: Pemanfaatan Pencahayaan Alami

  • Tindakan:
    • Pasang sensor cahaya atau saklar terpisah untuk area dengan jendela
    • Buat SOP mematikan lampu saat tidak diperlukan
    • Cat dinding warna terang untuk memaksimalkan refleksi cahaya
  • Estimasi Penghematan: 30-40% energi penerangan = 3,9-5,2 kWh/bulan
  • Penghematan Biaya: Rp 5.500 - 7.300/bulan
  • Penghematan Emisi: 3,3-4,4 kg CO₂/bulan
  • Investasi: Rp 300.000 untuk sensor cahaya

Rekomendasi Bonus: Heat Recovery (Jangka Panjang)

  • Manfaatkan air panas sisa perebusan untuk proses perendaman kedelai berikutnya
  • Potensi penghematan energi: 5-8% dari total energi LPG

KESIMPULAN

Ringkasan Temuan:

  • Total energi: 3.334,5 MJ/bulan
  • Intensitas energi: 0,222 MJ/potong
  • Jejak karbon: 428 kg CO₂/bulan
  • Potensi penghematan: 32% melalui 3 rekomendasi utama

Proyeksi Implementasi Rekomendasi:

  • Penghematan energi: ~1.067 MJ/bulan
  • Penghematan biaya: Rp 350.000 - 450.000/bulan
  • Pengurangan emisi: 137 kg CO₂/bulan (~32%)
  • Total investasi: Rp 800.000 (ROI: 2-3 bulan)

 

Rabu, 24 Desember 2025

Tugas Terstruktur 11 : Laporan Green Supply Chain Management (GSCM)

 

Laporan Green Supply Chain Management (GSCM)

Studi Kasus: Air Mineral Dalam Kemasan Botol Plastik


1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Industri air minum dalam kemasan (AMDK) mengalami pertumbuhan signifikan di Indonesia, dengan konsumsi mencapai miliaran liter per tahun. Namun, pertumbuhan ini menimbulkan persoalan lingkungan serius, terutama terkait sampah plastik dan jejak karbon dari proses produksi hingga distribusi.

1.2 Pemilihan Produk

Produk yang dipilih adalah air mineral dalam botol plastik PET ukuran 600ml yang diproduksi oleh produsen skala menengah-besar dengan distribusi nasional. Pemilihan produk ini didasarkan pada:

  • Volume konsumsi yang tinggi di masyarakat
  • Dampak lingkungan yang signifikan dari kemasan plastik sekali pakai
  • Kompleksitas rantai pasok yang melibatkan berbagai tahapan
  • Potensi besar untuk implementasi strategi GSCM

2. PEMETAAN RANTAI PASOK KONVENSIONAL

2.1 Diagram Alir Rantai Pasok


 

2.2 Penjelasan Tahapan

Tahap 1 - Pengadaan Bahan Baku: Material utama berupa resin PET virgin yang diproduksi dari minyak bumi, diimpor dari produsen petrokimia di Asia Timur dan Timur Tengah. Sumber air berasal dari mata air pegunungan yang dipompa menggunakan sistem elektrik.

Tahap 2 - Produksi/Manufaktur: Pabrik menggunakan teknologi blow molding untuk membentuk botol dari preform PET pada suhu 90-120°C. Proses filling line memerlukan energi listrik tinggi dan konsumsi air tambahan untuk pencucian dan sanitasi.

Tahap 3 - Logistik: Transportasi menggunakan truk diesel dengan efisiensi bahan bakar 3-4 km/liter. Muatan sering tidak optimal (50-70% kapasitas) karena volume produk yang besar relatif terhadap berat.

Tahap 4 - Distribusi/Ritel: Produk melewati beberapa titik distribusi sebelum sampai ke konsumen, masing-masing memerlukan fasilitas penyimpanan dengan pencahayaan dan kadang pendinginan.

Tahap 5 - End-of-Life: Sebagian besar botol berakhir di TPA atau tercecer di lingkungan. Infrastruktur daur ulang masih terbatas dengan tingkat pengumpulan rendah.


3. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN

3.1 Titik Kritis 1: Pengadaan Bahan Baku (Resin PET Virgin)

Masalah Lingkungan:

  1. Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil:
    • Produksi 1 kg resin PET virgin memerlukan 1.9 kg minyak bumi
    • Menghasilkan 3.4 kg CO₂ per kg resin PET
    • Untuk satu botol 600ml (~25 gram): ~85 gram CO₂
  2. Deplesi Sumber Daya Non-Renewable:
    • Resin virgin menguras cadangan minyak bumi
    • Proses crackin dan polimerisasi sangat intensif energi
  3. Polusi Udara dan Air:
    • Emisi VOC (Volatile Organic Compounds) dari pabrik petrokimia
    • Limbah kimia dari proses polimerisasi

Data Kuantitatif:

  • Total emisi dari material: ~0.085 kg CO₂/botol
  • Konsumsi energi: ~2.5 MJ/botol untuk produksi resin
  • Untuk produksi 1 juta botol/hari: 85 ton CO₂ hanya dari material

3.2 Titik Kritis 2: Logistik & Distribusi

Masalah Lingkungan:

  1. Emisi Gas Rumah Kaca Tinggi:
    • Truk diesel menghasilkan 2.68 kg CO₂ per liter solar
    • Efisiensi rendah: 3-4 km/liter dengan muatan penuh
    • Untuk jarak 500 km: ~335 kg CO₂ per truk
  2. Inefisiensi Muatan:
    • Air mineral memiliki rasio volume-berat yang tidak optimal
    • Load factor rata-rata 50-70% (banyak ruang kosong)
    • Memerlukan lebih banyak trip untuk volume produk sama
  3. Konsumsi Bahan Bakar Fosil:
    • Multi-tier distribution menambah total jarak tempuh
    • Produk melewati 3-4 titik distribusi sebelum ke konsumen
    • Total carbon footprint: ~0.15 kg CO₂/botol

Data Kuantitatif:

  • Jarak rata-rata produk ke konsumen: 600-800 km total
  • Emisi per botol dari transportasi: 0.12-0.18 kg CO₂
  • Untuk 1 juta botol: 120-180 ton CO₂ dari logistik

Total Dampak Lingkungan dari Kedua Titik Kritis:

  • Material + Logistik = ~0.235 kg CO₂/botol
  • Untuk produksi 1 miliar botol/tahun: 235,000 ton CO₂
  • Setara emisi dari 51,000 mobil per tahun

4. USULAN STRATEGI GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

4.1 Strategi 1: Pengadaan Hijau (Green Sourcing)

AspekDetail
Prinsip GSCMGreen Sourcing & Green Purchasing
Deskripsi StrategiMengganti 60% resin PET virgin dengan rPET (recycled PET) food-grade untuk produksi botol, dengan target mencapai 100% dalam 3 tahun. Mengimplementasikan bottle-to-bottle recycling system.
ImplementasiFase 1 (Tahun 1): Kemitraan dengan 3-5 supplier rPET food-grade bersertifikat
• Investasi teknologi sortir dan pembersihan plastik tingkat lanjut
• Pengembangan program pengumpulan botol bekas melalui reverse vending machine di 100 lokasi strategis
• Modifikasi line produksi untuk mengakomodasi blend virgin-rPET
Fase 2 (Tahun 2-3): Ekspansi infrastruktur pengumpulan ke 500 titik
• Pembangunan fasilitas washing dan pelletizing sendiri
• Edukasi konsumen tentang program deposit-refund scheme
Manfaat LingkunganPengurangan Emisi: 67% lebih rendah (1.1 kg vs 3.4 kg CO₂/kg material)
Penghematan Energi: 79% lebih efisien dibanding produksi virgin PET
Pengurangan Sampah: Mengalihkan 15,000 ton plastik/tahun dari TPA
Konservasi Minyak Bumi: Menghemat ~28,500 ton minyak bumi/tahun
Target: Reduksi 140,000 ton CO₂/tahun dari material sourcing

4.2 Strategi 2: Logistik Hijau (Green Logistics)

AspekDetail
Prinsip GSCMGreen Logistics & Transportation
Deskripsi StrategiOptimalisasi rute dan moda transportasi dengan mengintegrasikan sistem ERP untuk load optimization, konversi 40% armada ke truk CNG/hybrid, dan implementasi regional production hubs untuk mengurangi jarak tempuh.
ImplementasiRoute Optimization:
- Implementasi TMS (Transportation Management System) dengan AI-powered routing
- Konsolidasi pengiriman dengan target load factor minimum 85%
- Milk-run strategy untuk mengoptimalkan backhaul
Fleet Modernization:
- Penggantian bertahap 40% armada dengan truk CNG atau Euro 5 standard dalam 2 tahun
- Pilot project 5 truk elektrik untuk distribusi urban
- Preventive maintenance untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar 8-10%
Network Redesign:
- Pembangunan 3 mini-plant di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi
- Mengurangi rata-rata jarak distribusi dari 600 km menjadi 250 km
Manfaat LingkunganPengurangan Emisi Transportasi: 55% (dari 0.15 kg menjadi 0.068 kg CO₂/botol)
Efisiensi Bahan Bakar: Peningkatan dari 3.5 km/L menjadi 5.2 km/L (equivalent)
Reduksi Jarak Tempuh: 60% berkurang dengan regional hub
Target: Penghematan 82,000 ton CO₂/tahun dari logistik
Co-benefit: Pengurangan polusi udara lokal (NOx, PM2.5) hingga 48%

4.3 Strategi 3: Desain Produk Hijau & Reverse Logistics

AspekDetail
Prinsip GSCMGreen Design, Eco-Design, & Reverse Logistics
Deskripsi StrategiRedesign botol dengan lightweight packaging (pengurangan berat 20%), eliminasi label shrink sleeve dengan direct printing, dan membangun sistem closed-loop reverse logistics dengan target collection rate 35% dalam 2 tahun.
ImplementasiEco-Design:
- Pengurangan berat botol dari 25g menjadi 20g tanpa mengurangi kekuatan
- Teknologi direct printing on PET menggantikan shrink sleeve label
- Desain botol yang stackable untuk efisiensi transportasi 25%
- Standarisasi tutup botol untuk mempermudah daur ulang
Reverse Logistics System:
- Deployment 500 reverse vending machines (RVM) di retail partners
- Insentif Rp 500/botol untuk konsumen yang mengembalikan
- Pembangunan 15 collection center regional
- Partnership dengan waste banks dan informal collectors
- Mobile app untuk tracking dan reward points
Circular Economy Model:
- Bottle-to-bottle closed loop dengan target 80% circularity
- Kerjasama dengan pemerintah untuk Extended Producer Responsibility (EPR)
Manfaat LingkunganMaterial Reduction: 20% less plastic = 5g/botol = 5,000 ton/tahun
Waste Diversion: 35% collection rate = 350 juta botol/tahun tidak ke TPA
Emisi dari Lightweight: Reduksi 0.017 kg CO₂/botol
Emisi dari Reverse Logistics: +0.015 kg CO₂/botol (net saving masih positif)
Total Net Benefit: Reduksi 19,000 ton CO₂/tahun
Dampak Ekosistem: Mencegah 8,750 ton plastik mencemari laut/sungai
Job Creation: 1,200 pekerjaan hijau di sektor pengumpulan dan daur ulang

5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan

Analisis rantai pasok air mineral dalam kemasan menunjukkan bahwa dua titik kritis utama—pengadaan material dan logistik—berkontribusi pada 75% total jejak karbon produk (sekitar 0.235 kg CO₂/botol). Implementasi tiga strategi GSCM yang diusulkan dapat memberikan dampak signifikan:

Ringkasan Potensi Pengurangan Emisi:

  • Strategi 1 (Green Sourcing): -140,000 ton CO₂/tahun (60% reduction)
  • Strategi 2 (Green Logistics): -82,000 ton CO₂/tahun (55% reduction)
  • Strategi 3 (Eco-Design & Reverse Logistics): -19,000 ton CO₂/tahun

Total Potensi: Reduksi 241,000 ton CO₂/tahun, setara dengan menghilangkan emisi dari 52,400 mobil atau menanam 11 juta pohon.

5.2 Rekomendasi

Untuk Perusahaan:

  1. Prioritas Jangka Pendek (0-12 bulan):
    • Mulai pilot project rPET 30% pada satu line produksi
    • Implementasi TMS untuk route optimization
    • Deploy 50 RVM di area urban density tinggi
  2. Jangka Menengah (1-2 tahun):
    • Scale-up penggunaan rPET ke 60% di semua line
    • Konversi 40% armada ke teknologi lebih bersih
    • Bangun 3 regional hub untuk mengurangi jarak distribusi
  3. Jangka Panjang (3-5 tahun):
    • Capai 100% rPET atau material alternatif
    • Full electrification armada distribusi urban
    • Establish bottle-to-bottle circular economy 80%

Untuk Stakeholder Lain:

  • Pemerintah: Regulasi EPR yang kuat, insentif pajak untuk penggunaan material daur ulang, infrastruktur waste management
  • Retailer: Sediakan space untuk RVM, edukasi konsumen
  • Konsumen: Partisipasi aktif dalam program pengembalian botol
  • Industri Daur Ulang: Investasi teknologi food-grade recycling

5.3 Catatan Implementasi

Keberhasilan transformasi menuju green supply chain memerlukan:

  • Investasi awal: Estimasi $8-12 juta untuk 3 strategi
  • Payback period: 3-4 tahun dari cost saving (material, fuel, waste)
  • Change management: Training 500+ karyawan, culture shift
  • Monitoring & Evaluation: KPI tracking dengan dashboard real-time

6. DAFTAR PUSTAKA

  1. Sarkis, J., Zhu, Q., & Lai, K. H. (2011). "An organizational theoretic review of green supply chain management literature." International Journal of Production Economics, 130(1), 1-15. https://doi.org/10.1016/j.ijpe.2010.11.010
  2. Larrain, M., Van Passel, S., Thomassen, G., Van Gorp, B., Nhu, T. T., Huysveld, S., ... & Billen, P. (2021). "Techno-economic assessment of mechanical recycling of challenging post-consumer plastic packaging waste." Resources, Conservation and Recycling, 170, 105607. https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2021.105607
  3. Siahaan, Y. M. T., Saputro, T. E., & Pujawan, I. N. (2022). "A systematic literature review of green supply chain management practices and their impacts on firm performance." International Journal of Production Economics, 251, 108529.
  4. Kourmpanis, B., Papadopoulos, A., Moustakas, K., Kourmoussis, F., Stylianou, M., & Loizidou, M. (2008). "An integrated approach for the management of demolition waste in Cyprus." Waste Management & Research, 26(6), 573-581.
  5. Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., ... & Law, K. L. (2015). "Plastic waste inputs from land into the ocean." Science, 347(6223), 768-771.
  6. Indonesian Ministry of Environment and Forestry. (2023). "Indonesia National Plastic Action Partnership: Roadmap for Systemic Change." Jakarta: Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia.

Tugas Terstruktur 10 : Analisis Studi Kasus:

 

Analisis Studi Kasus: Produksi Berkelanjutan Unilever Indonesia

A. Profil Perusahaan dan Latar Belakang

Nama Perusahaan: PT Unilever Indonesia Tbk
Sektor Industri: Manufaktur - Fast Moving Consumer Goods (FMCG)

Produk/Layanan Utama:
Unilever Indonesia memproduksi dan mendistribusikan produk konsumen meliputi home care (Rinso, Sunlight), personal care (Dove, Lifebuoy, Pond's), dan foods & refreshment (Royco, Bango, Wall's). Perusahaan mengoperasikan beberapa pabrik di Indonesia dengan kapasitas produksi jutaan unit per tahun.

Motivasi Adopsi Produksi Berkelanjutan:

  1. Kepatuhan Regulasi: Regulasi lingkungan Indonesia yang semakin ketat terkait limbah plastik dan emisi
  2. Tekanan Konsumen: Meningkatnya kesadaran konsumen millennial dan Gen Z terhadap produk ramah lingkungan
  3. Efisiensi Biaya: Target pengurangan biaya operasional melalui efisiensi energi dan material
  4. Brand Image Global: Komitmen grup Unilever global terhadap "Unilever Compass" dan target net-zero emissions 2039
  5. Competitive Advantage: Diferensiasi produk melalui sertifikasi keberlanjutan

B. Strategi Keberlanjutan yang Digunakan

1. Ekonomi Sirkular melalui Program "Plastic Action"

Unilever Indonesia menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan strategi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada kemasan plastik:

  • Reduce: Mengurangi penggunaan plastik virgin hingga 50% pada 2025, beralih ke material daur ulang (PCR - Post Consumer Recycled) dan material alternatif
  • Reuse: Meluncurkan sistem refill station di retail modern untuk produk seperti Rinso dan Sunlight
  • Recycle: Bermitra dengan waste bank dan sektor informal untuk mengumpulkan 60,000+ ton plastik melalui program "Unilever Indonesia Foundation" dan kolaborasi dengan startup seperti Waste4Change

Kaitan dengan SCP: Strategi ini sejalan dengan pola Sustainable Production (meminimalkan input material virgin) dan Sustainable Consumption (mengubah perilaku konsumen menuju refill culture), sekaligus mengurangi tekanan pada landfill dan ekosistem laut.

2. Transisi Energi Terbarukan dan Life Cycle Thinking

Unilever menerapkan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) dalam optimalisasi proses produksi:

  • Energi Terbarukan: Konversi 100% grid electricity ke renewable energy di pabrik Cikarang dan Rungkut sejak 2020, menggunakan biomassa (sekam padi) dan solar panel
  • Efisiensi Air: Implementasi closed-loop water system dan teknologi membrane bioreactor untuk menurunkan water intensity
  • Green Formulation: Redesain formula produk untuk mengurangi carbon footprint (misalnya konsentrat deterjen yang mengurangi air dalam produk hingga 30%)

Kaitan dengan SCP: Life Cycle Thinking memastikan setiap tahap—dari raw material extraction hingga end-of-life—dioptimalkan untuk minimalisasi dampak lingkungan, sejalan dengan konsep cradle-to-cradle dalam SCP framework.

C. Indikator Keberlanjutan (Triple Bottom Line)

Planet (Lingkungan)

Data Kuantitatif (2023 vs baseline 2019):

  • Intensitas Emisi Karbon: Penurunan 52% CO₂eq per ton produksi (dari ~0.65 menjadi ~0.31 kg CO₂eq/ton)
  • Penggunaan Air: Pengurangan water intensity sebesar 34% (dari 1.8 m³ menjadi 1.19 m³ per ton produksi)
  • Waste to Landfill: Zero waste to landfill achieved di semua manufacturing sites sejak 2021 (100% waste dimanfaatkan sebagai RDF atau composting)
  • Plastik Daur Ulang: 18% dari total kemasan menggunakan PCR content, target 25% pada 2025

Profit (Ekonomi)

Dampak Finansial:

  • Penghematan Operasional: Estimasi penghematan Rp 47 miliar per tahun dari efisiensi energi dan pengurangan waste
  • Premium Product Revenue: Pertumbuhan 23% YoY dari lini produk dengan sustainability claims (Love Beauty and Planet, seventh generation)
  • Cost Avoidance: Pengurangan risiko regulasi dan potensi carbon tax mencapai Rp 15 miliar per tahun
  • Investor Confidence: Masuk dalam Sri-Kehati Index (indeks saham perusahaan berkelanjutan di BEI) meningkatkan valuasi perusahaan

People (Sosial)

Data Kualitatif dan Kuantitatif:

  • Keselamatan Kerja: LTIFR (Lost Time Injury Frequency Rate) 0.12 per 200,000 jam kerja, di bawah standar industri FMCG (0.5)
  • Fair Wage: 100% karyawan menerima living wage di atas UMR, dengan benefit kesehatan comprehensive
  • Pelatihan SDM: Rata-rata 42 jam pelatihan per karyawan per tahun, termasuk sustainability literacy program
  • Community Development: Pemberdayaan 15,000+ waste picker melalui program "Bijak Berplastik", meningkatkan pendapatan mereka rata-rata 35%
  • Women Empowerment: 42% posisi managerial diisi oleh perempuan, program UMKM woman entrepreneur melibatkan 5,000+ peserta

D. Dampak dan Evaluasi Hasil

Dampak Positif

Dampak Paling Signifikan:

  1. Lingkungan: Berkontribusi pada pengurangan 78,000+ ton emisi CO₂ per tahun (setara menanam 3.5 juta pohon), dan mencegah 60,000+ ton plastik masuk ke TPA/laut—dampak yang terukur dan substantial terhadap target Indonesia mengurangi sampah laut 70% pada 2025
  2. Sosial: Transformasi ekonomi sektor informal waste management dengan meningkatkan dignity dan income stability bagi ribuan waste picker, sekaligus menciptakan awareness massal tentang circular economy melalui jangkauan distribusi Unilever

Tantangan Utama

Kendala Terbesar:

Infrastruktur Daur Ulang yang Belum Matang — Indonesia memiliki tingkat recycling rate hanya ~10%, jauh di bawah target Unilever. Keterbatasan fasilitas washing dan processing PCR berkualitas food-grade memaksa perusahaan impor PCR resin, meningkatkan biaya hingga 40-60% dibanding virgin plastic. Ketergantungan pada sektor informal yang belum terstandarisasi juga menciptakan inkonsistensi supply chain material daur ulang.

Evaluasi Kritis

Efektivitas Strategi:

Unilever Indonesia menunjukkan komitmen genuine terhadap keberlanjutan dengan pencapaian terukur di ketiga pilar TBL. Pendekatan sistemik mereka—menggabungkan inovasi teknologi, business model transformation, dan kolaborasi multi-stakeholder—mencerminkan implementasi SCP yang relatif komprehensif.

Namun, beberapa kritik perlu diperhatikan:

  1. Greenwashing Risk: Meski data menunjukkan progress, gap antara target ambisius (25% PCR) dengan realisasi (18%) menunjukkan potensi overpromising. Marketing communication yang heavy pada sustainability claims harus diimbangi transparansi penuh mengenai scope 3 emissions (distribusi dan consumer use phase) yang belum fully disclosed.
  2. Systemic Change vs. Incremental: Strategi refill baru mencakup <5% total SKU. Untuk transformasi sejati, Unilever perlu radical business model shift menuju reusable packaging ecosystem, bukan hanya optimalisasi recyclable single-use plastic.
  3. Trade-off Tersembunyi: Penggunaan biomassa (sekam padi) untuk energi berpotensi bersaing dengan kebutuhan pangan ternak atau composting. Life Cycle Assessment yang genuinely holistic harus mengungkap trade-off ini.

Kesimpulan:
Unilever Indonesia merepresentasikan "strong sustainability frontier" di konteks industri FMCG Indonesia, dengan implementasi yang jauh melampaui rata-rata industri. Efektivitas strategi terbukti melalui data Triple Bottom Line yang solid. Namun, untuk mencapai keberlanjutan sejati (true sustainability), diperlukan akselerasi menuju degrowth-compatible circular model dan transparansi penuh value chain, bukan hanya eco-efficiency dalam business-as-usual framework. Kolaborasi dengan pemerintah untuk mempercepat infrastruktur daur ulang nasional menjadi kunci scaling impact ke industry-wide transformation.


Sumber Data:

  • Unilever Indonesia Sustainability Report 2023
  • Annual Report PT Unilever Indonesia Tbk 2023
  • Laporan "Plastic Action Indonesia" 2024
  • Data BEI dan Sri-Kehati Index 2024

Tugas Terstuktur 12 : Infografis Konsumen Berkelanjutan

  PANDUAN LENGKAP PENGERJAAN INFOGRAFIS KONSUMEN BERKELANJUTAN 📌 TAHAP 1: PERENCANAAN DAN RISET A. Pilih Target Audiens Saya merekomendasik...